TUroTpA6GpM9BSz0GSA9TpW9TY==

Apakah Grup Investasi Benar-Benar bikin Cuan?

Muhammad Ananda Fakhri S.E., M.M

Penulis :
Muhammad Ananda Fakhri S.E., M.M dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Sumatera Utara.

Editor : Hana Dhiya

Daily Jogja, Opini - Di era digital ini, perjalanan investasi kita jarang dilakukan sendirian. Kita diundang ke grup Telegram "VIP Signal", bergabung dengan server Discord saham, atau mengikuti sub-thread diskusi kripto di Reddit dan X (Twitter). Narasi yang dijual sangat menggoda: "Kita bersama-sama melawan pasar," atau "Informasi adalah kekayaan."

Logika intuitif kita mengatakan bahwa seribu kepala lebih baik daripada satu. Kita menyebutnya Wisdom of Crowds atau kecerdasan kolektif. Namun, jika kita menelaah literatur ilmiah keuangan selama dua dekade terakhir, sebuah kebenaran yang tidak nyaman terungkap: Bergabung dengan grup investasi baik itu klub saham tradisional maupun komunitas kripto modern secara statistik sering kali justru menurunkan imbal hasil (return) portofolio Anda.

Mengapa "kekuatan komunitas" ini justru menjadi racun bagi dompet investor ritel?

Paradoks "Terlalu Banyak Koki"

Keyakinan bahwa diskusi grup secara otomatis akan menghasilkan keputusan investasi yang lebih tajam dan rasional telah dipatahkan sejak lama oleh studi klasik dari Barber dan Odean (2000) dalam jurnal bergengsi Financial Analysts Journal.

Dalam penelitian seminal berjudul "Too Many Cooks Spoil the Profits", mereka melakukan analisis mendalam terhadap kinerja 166 klub investasi. Temuannya sangat kontraintuitif dan mengejutkan: 60% dari klub tersebut mencatat kinerja yang jauh lebih buruk daripada indeks pasar standar. Lebih ironis lagi, kinerja kolektif grup-grup ini ternyata lebih rendah dibandingkan dengan kinerja portofolio individu para anggotanya. Artinya, ketika individu-individu ini berkumpul untuk berdiskusi, mereka tidak menjadi lebih pintar, melainkan justru memperkuat bias satu sama lain.

Penyebab utama dari kegagalan kolektif ini berakar kuat pada dinamika sosial. Dalam ruang diskusi tertutup, sering terjadi fenomena psikologis yang disebut Groupthink. Demi menjaga keharmonisan sosial atau agar terlihat "kompak", anggota yang memiliki pandangan berbeda atau skeptis cenderung menahan diri untuk tidak mengkritik ide populer. Akibatnya, keputusan investasi diambil bukan berdasarkan analisis data yang objektif, melainkan konsensus yang dangkal.

Selain itu, validasi sosial dalam grup menciptakan ilusi kompetensi yang berbahaya atau overconfidence. Rasa percaya diri berlebih ini menjadi bahan bakar utama perilaku over-trading (terlalu sering melakukan jual-beli saham). Grup cenderung merasa perlu untuk selalu "melakukan sesuatu" agar terlihat aktif dan produktif. Padahal dalam investasi, aktivitas berlebihan adalah musuh imbal hasil. Semakin sering grup melakukan transaksi, semakin besar biaya komisi dan bid-ask spread yang menggerus keuntungan bersih, serta semakin besar peluang mereka melakukan kesalahan penentuan waktu pasar (market timing error) yang fatal.

Era Digital: Sinyal atau Kebisingan?

Mungkin Anda berpikir, "Itu kan tahun 2000, sekarang kita punya Big Data, AI, dan akses informasi real-time." Logikanya, teknologi seharusnya membuat investor ritel lebih pintar. Namun, literatur terbaru tentang komunitas investasi daring (social trading) justru menunjukkan pola perilaku yang tak jauh berbeda, bahkan dalam skala yang lebih masif dan destruktif.

Studi dari Pan et al. (2012) dan penelitian lanjutan mengenai platform social trading seperti eToro menyoroti paradoks informasi di era digital. Meskipun jejaring sosial memfasilitasi aliran informasi yang cepat, mereka secara simultan menciptakan ruang gema atau echo chamber yang kedap kritik. Mekanismenya sederhana namun mematikan: ketika sebuah aset (misalnya saham gorengan atau memecoin) mulai naik, algoritma dan dinamika grup akan memprioritaskan suara-suara optimis. Pandangan skeptis sering kali dicap sebagai "FUD" (Fear, Uncertainty, Doubt) dan dikucilkan.

Akibatnya, anggota grup hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Mereka saling memvalidasi keputusan pembelian satu sama lain, menciptakan bias konfirmasi yang sangat kuat. Anda tidak lagi menganalisis apakah saham tersebut layak dibeli, melainkan hanya mencari teman yang setuju bahwa saham itu akan naik.

Dalam konteks cryptocurrency, bahaya ini berlipat ganda karena absennya jangkar fundamental. Berbeda dengan saham yang memiliki laporan keuangan atau dividen sebagai tolok ukur nilai, banyak aset kripto murni bergerak berdasarkan narasi. Penelitian dari Bouri et al. (2019) dalam International Review of Financial Analysis menyoroti perilaku herding (ikut-ikutan) yang jauh lebih ekstrem di pasar kripto dibandingkan pasar tradisional.

Di sinilah letak jebakannya: grup kripto sering kali tidak didasarkan pada analisis teknikal yang sehat, melainkan pada manipulasi emosi dan hype. Ketika seorang influencer atau pemimpin grup (sering disebut "Calls Channel") meneriakkan "Beli sekarang!", yang terjadi sebenarnya adalah transfer kekayaan dari pengikut ke pemimpin. Lonjakan harga sesaat sering kali hanyalah self-fulfilling prophecy jangka pendek.

Bagi investor ritel yang masuk belakangan—karena baru membaca notifikasi grup terlambat 10 atau 15 menit saja—posisi mereka sudah sangat tidak menguntungkan. Mereka membeli di pucuk harga (local top) dan secara tidak sadar berfungsi sebagai exit liquidity (korban cuci piring). Uang yang mereka masukkan digunakan untuk membayar keuntungan para penggerak awal yang sudah siap menjual asetnya (dump) tepat saat kerumunan mulai masuk.

Ketika "Social Learning" Menjadi Bencana

Ada konsep menarik dalam ekonomi perilaku yang disebut Social Learning. Seharusnya, kita belajar dari kesuksesan orang lain. Namun, studi dari Gemayel (2020) menemukan bahwa dalam social trading (meniru portofolio orang lain), pengikut (copiers) sering kali mengambil risiko yang jauh lebih besar daripada yang mereka sadari.

Melihat orang lain pamer "Cuan 100%" di grup memicu bagian otak kita yang impulsif. Kita mengabaikan profil risiko pribadi demi mengejar angka fantastis tersebut. Akibatnya, portofolio kita menjadi tidak seimbang dan rentan hancur saat pasar terkoreksi sedikit saja.

Jadi, Harus Keluar dari Semua Grup?

Tidak harus. Literatur ilmiah tidak melarang interaksi sosial, namun menyarankan perubahan fungsi grup bagi investor individu.

Riset dari Chen et al. (2014) di Seeking Alpha menunjukkan bahwa pandangan crowd bisa berguna jika digunakan sebagai sumber data, bukan sumber keputusan.

Gunakan grup investasi sebagai Information Filter (penyaring berita), bukan Investment Advisor (penasihat). Jika grup ramai membicarakan saham A, anggap itu sebagai titik awal untuk melakukan riset mandiri (Due Diligence), bukan sinyal beli otomatis.

Ingatlah bahwa dalam pasar modal, keuntungan di atas rata-rata (alpha) didapat dari melihat apa yang orang lain tidak lihat, bukan dengan mengikuti apa yang semua orang sudah lakukan. Jika "semua orang" di grup sudah tahu, maka informasi itu sudah priced-in, dan peluang keuntungan Anda mungkin sudah hilang.

Berinvestasi itu sepi. Jika terasa terlalu ramai dan riuh, mungkin Anda bukan sedang berinvestasi, melainkan sedang ikut arus yang siap menenggelamkan portofolio Anda.

Referensi

Barber, B. M., & Odean, T. (2000). "Too Many Cooks Spoil the Profits: Investment Clubs and Stock Market Performance." Financial Analysts Journal, 56(1), 17-25.

Bouri, E., Gupta, R., & Roubaud, D. (2019). "Herding behaviour in cryptocurrencies." International Review of Financial Analysis, 63, 21-28.

Pan, W., Altshuler, Y., & Pentland, A. (2012). "Decoding Social Influence and the Wisdom of the Crowd in Financial Trading Network." MIT Media Lab.

Gemayel, R. (2020). "Social Trading: The influence of others on trading decisions." Journal of Economic Behavior & Organization.

Komentar0

Type above and press Enter to search.