
Reza Azis Mukti
Perspektif: Reza Azis Mukti
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lampung Timur selama masa libur Lebaran tahun 2025 mencapai 309.162 kunjungan. Namun pada periode yang sama tahun 2026, angka tersebut menurun menjadi 298.472 kunjungan.
Di sisi lain, beberapa daerah lain di Lampung justru mencatat angka kunjungan lebih tinggi. Bandar Lampung berada di posisi teratas dengan 451.324 kunjungan, disusul Lampung Selatan sebanyak 399.753 kunjungan, dan Lampung Tengah dengan 382.617 kunjungan. Lampung Timur berada di urutan keempat.
Secara umum, sektor pariwisata Lampung justru sedang mengalami pertumbuhan besar. Total kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara sepanjang tahun 2025 mencapai 24,7 juta orang atau naik 53,50 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan perputaran ekonomi mencapai Rp53,11 triliun. Ini menunjukkan bahwa pariwisata menjadi sektor yang sangat potensial bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun pertanyaannya, mengapa Lampung Timur justru mengalami penurunan?
Menurut saya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Mulai dari cuaca ekstrem, perubahan tren dan preferensi wisatawan, hingga persoalan klasik seperti infrastruktur, aksesibilitas, fasilitas wisata, dan biaya perjalanan.
Padahal jika kita melihat lebih dekat, pariwisata di Lampung Timur tumbuh dengan cara yang berbeda. Ia lahir dari bawah. Dari masyarakat. Dari semangat komunitas. Dari gerakan para Pokdarwis, anak muda desa, pelaku UMKM, pegiat budaya, hingga komunitas kreatif yang bergerak secara mandiri membangun destinasi.
Inilah kekuatan utama Lampung Timur: pariwisata yang tumbuh secara otentik.
Banyak destinasi di Lampung Timur berkembang bukan karena proyek besar, tetapi karena gotong royong masyarakat. Karena ada rasa memiliki. Karena ada semangat untuk memperkenalkan daerahnya sendiri. Hal seperti ini tidak semua daerah punya.
Karena itu, semangat masyarakat ini jangan dibiarkan tumbuh sendirian. Pemerintah daerah harus hadir lebih kuat sebagai pendukung dan akselerator.
Destinasi wisata di Lampung Timur perlu dibantu untuk naik kelas. Bukan hanya SDM pariwisatanya yang perlu dilatih dan ditingkatkan kapasitasnya, tetapi infrastrukturnya juga harus terus digenjot. Akses jalan menuju destinasi, penataan kawasan wisata, fasilitas umum, promosi digital, event daerah, hingga konektivitas antar destinasi harus diperkuat agar memiliki daya saing dengan kabupaten lain.
Pariwisata hari ini bukan lagi sekadar tempat berfoto. Wisata sudah menjadi ekosistem ekonomi. Ketika wisata tumbuh, UMKM bergerak, homestay hidup, pedagang ramai, transportasi berjalan, seni budaya tampil, hingga lapangan kerja terbuka bagi anak muda desa.
Karena itu, sektor pariwisata tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia adalah motor pertumbuhan ekonomi baru yang bisa menjadi kekuatan masa depan Lampung Timur.
Lampung Timur sebenarnya punya modal besar: alam, budaya, sejarah, masyarakat kreatif, desa wisata, kawasan penyangga Taman Nasional Way Kambas, hingga potensi ekonomi kreatif yang terus tumbuh. Tinggal bagaimana seluruh potensi ini dirawat dengan keseriusan, kolaborasi, dan keberpihakan kebijakan.
Penurunan angka kunjungan tahun ini harus menjadi alarm sekaligus momentum evaluasi. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki arah pembangunan pariwisata ke depan.
Sebab jika dikelola serius, bukan tidak mungkin Lampung Timur suatu saat mampu menjadi salah satu pusat pertumbuhan pariwisata baru di Provinsi Lampung.
Komentar0