| Mahasiswa UGM melalui PKM-PM menghadirkan E-KOMPAK di Dusun Sembung untuk mengolah sampah organik menjadi ekoenzim, kompos, dan pakan. |
Daily Jogja, Yogyakarta - Persoalan limbah dari sampah organik rumah tangga telah menjadi persoalan cukup lama dikalangan masyarakat, khususnya warga di Dusun Sembung, RT 04, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Permasalahan pengelolaan limbah organik di dusun Sembung kebanyakan disebabkan oleh kurangnya edukasi dan pengetahuan warga dalam pengelolaannya. Kondisi ini tak terlepas dari minimnya peran pemerintah dalam mengedukasi pengelolaan limbah rumah tangga. Padahal, pemerintah Kabupaten Sleman sudah memiliki Perda No. 6 Tahun 2023, yang memuat pasal tentang pengelolaan sampah.
Melihat hal tersebut mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) menghadirkan E-KOMPAK (Ekoenzim, Kompos, dan Pakan), sebagai sistem yang terintegrasi dalam pengolahan sampah organik rumah tangga. Ketiga produk E-KOMPAK tersebut tidak dibuat sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sebuah sistem pengelolaan sampah yang dapat dilakukan dan dikembangkan oleh masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.
Melalui rangkaian kegiatan yang dilakukan secara bertahap, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada konsep pengelolaan sampah, tetapi juga diarahkan untuk memahami cara memilah, mengolah, memanfaatkan, hingga memantau hasil pengelolaan sampah.
Salah satu produk yang dihasilkan dari program E-KOMPAK adalah ekoenzim. Dalam pelaksanaannya, warga tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai pembuatan ekoenzim, tetapi juga diperkenalkan pada pengaplikasian hasilnya. Ekoenzim yang telah dibuat dapat dimanfaatkan, antara lain, sebagai bahan pembersih alami maupun untuk kebutuhan pemanfaatan pada tanaman.
Selain ekoenzim, program E-KOMPAK juga menghasilkan pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos dari ember tumpuk. Sementara itu, sisa limbah organik yang masih memiliki potensi sebagai sumber pakan diolah menjadi pakan ternak, sehingga seluruh limbah organik yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat diolah habis dengan sistem E-KOMPAK.
Untuk membangun pemahaman masyarakat, tim pengabdian E-KOMPAK melaksanakan sosialisasi secara bertahap. Materi yang diberikan mencakup pengenalan program, pemilahan sampah, pengelolaan ekoenzim, penggunaan ember tumpuk untuk pengolahan kompos, hingga pemanfaatan limbah organik sebagai pakan ternak. Pendekatannya sendiri tidak hanya berupa penyampaian materi secara langsung, tetapi juga didukung oleh berbagai media pembelajaran, seperti video tutorial dan buku pedoman yang membantu masyarakat dalam memahami, mempraktikkan, dan memantau pengelolaan sampah secara mandiri.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari keterlibatan peserta dalam setiap kegiatan. Ketua PKK dusun Sembung, Ibu Yayuk, menyampaikan hal itu secara langsung, "Selama ini limbah dapur rumah tangga saya seringkali hanya dibuang atau berakhir dibakar. Selain itu, saya sendiri juga belum mengenal pengolahan mandiri seperti E-KOMPAK, di mana sampah organik bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bahkan bernilai ekonomis,” katanya.
Tidak hanya mengandalkan pengelolaan secara manual, E-KOMPAK juga mengembangkan sistem monitoring berbasis teknologi untuk membantu masyarakat mencatat perkembangan hasil pengolahan sampah.
Dengan aplikasi monitoring, Si Kompak, masyarakat dapat mencatat hasil pengelolaan dan memantau perkembangan produksi secara berkala. Sistem tersebut dirancang untuk membantu mencatat jumlah ekoenzim yang dihasilkan maupun kompos dan pakan yang diproduksi dalam periode tertentu. Dengan adanya pencatatan tersebut, hasil pengelolaan tidak hanya berhenti pada kegiatan produksi, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui perkembangan program dari waktu ke waktu.
Melalui program E-KOMPAK ini, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik secara terpadu serta mendorong pemanfaatannya menjadi produk yang bernilai guna, seperti ekoenzim, kompos, dan pakan ternak.
Komentar0