TUroTpA6GpM9BSz0GSA9TpW9TY==

Mahasiswa Informatika UNESA Terapkan Sistem 'AgroDSS Cangkringan' untuk Pengendalian Produksi Pupuk Hayati

PENERAPAN KARYA DIGITAL — Poster dokumentasi penyerahan dan uji coba sistem pendukung keputusan produksi AgroDSS Cangkringan oleh tim mahasiswa S1 Teknik Informatika UNESA di CV Pandawa Kencana Multifarm, Sleman. Sistem berbasis machine learning ini dirancang untuk mengoptimalkan perencanaan produksi pupuk dan pakan hayati. (Foto: Dokumentasi Tim Pengembang)

SLEMAN —
Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengembangkan dan menguji coba sistem pendukung keputusan produksi berbasis web bernama AgroDSS Cangkringan di CV Pandawa Kencana Multifarm, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Sistem yang dapat diakses secara publik melalui peramban di agrodss-cangkringan.streamlit.app ini dirancang untuk membantu perencanaan produksi pupuk organik dan pakan ternak hayati agar jumlah yang diproduksi sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pengembangan sistem bermula dari program pembelajaran rekayasa data bersama PT Vinix Seven Aurum. Dari pembinaan tersebut, tim mahasiswa memanfaatkan model machine learning untuk menyelesaikan persoalan nyata pada rantai pasok agribisnis lokal di lereng Gunung Merapi.

CV Pandawa Kencana memproduksi berbagai produk berbasis mikroorganisme aktif, antara lain pupuk cair GB Propunic, probiotik ternak GB Profeed, pupuk padat Compossap, dan agen hayati pengendali hama. Karena berbasis bakteri hidup, produk hayati memiliki batas masa aktif penyimpanan. Jika produksi berlebih dan barang menumpuk terlalu lama di gudang, mutu bakteri dapat menurun. Sebaliknya, jika kapasitas produksi terlambat disiapkan, pasokan ke kelompok tani bisa terganggu saat musim tanam tiba.

Untuk mengatasi hal tersebut, AgroDSS Cangkringan memanfaatkan algoritma XGBoost Regressor dengan 11 variabel analisis, termasuk data transaksi sebelumnya, kalender musim tanam (Rendeng, Gadu, dan Bera), serta faktor curah hujan wilayah lereng Merapi.

Sistem ini memiliki keunggulan praktis karena tidak hanya menampilkan angka proyeksi dalam desimal atau liter, melainkan langsung mengonversinya ke satuan wadah fisik yang digunakan di lantai pabrik—mulai dari drum 100 liter, jeriken 10 liter, hingga zak kompos 50 kilogram. Selain itu, sistem menyertakan indikator sisa umur aktif bakteri guna mendukung rotasi pengeluaran barang berbasis First-In First-Out (FIFO) serta menu panduan dosis pemakaian produk untuk kebutuhan kelompok tani.

Ketua tim pengembang dari UNESA, Rahmat Nugroho Saputra, menyampaikan bahwa antarmuka sistem sengaja dirancang sederhana agar mudah dipahami oleh petugas operasional gudang.

"Fokus utama kami adalah membuat luaran model prediksi ini langsung bisa dipakai kerja di lapangan. Jadi staf gudang tidak perlu menghitung manual lagi, karena sistem langsung memunculkan rincian berapa drum dan jeriken yang harus disiapkan. Tampilan antarmuka juga kami buat dengan kontras warna yang tegas supaya tetap jelas terbaca saat dibuka lewat tablet di area gudang," jelas Rahmat.

Dari sisi teknis, sistem ini juga dioptimalkan dengan mekanisme penyimpanan cache data visual, sehingga proses pembaruan grafik saat menggeser simulasi parameter berjalan cepat di bawah 300 milidetik dan tetap ringan dibuka lewat koneksi seluler.

Penerapan AgroDSS Cangkringan ini menjadi bagian dari luaran program mobilitas akademik mahasiswa dalam mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 5 perguruan tinggi, yakni penerapan karya terapan digital yang dimanfaatkan langsung oleh mitra usaha dan masyarakat. Melalui sistem ini, perencanaan alokasi batch fermentasi di pabrik dapat dilakukan lebih terukur sekaligus meminimalkan risiko kerusakan produk hayati selama masa penyimpanan.

Komentar0

Type above and press Enter to search.