TUroTpA6GpM9BSz0GSA9TpW9TY==

Jeremie The dan Keyakinan Sederhana: Kalau Belajar, yang Sulit Jadi Gampang

Dokumentasi pribadi : Jeremie The Siswa berprestasi Tingkat Internasional asal Surabaya

SURABAYA – Ketika ditanya tentang matematika, Jeremie The tidak mengatakan bahwa semua soal mudah baginya. Justru sebaliknya. “Aslinya sulit,” katanya. Tetapi kalimat Jeremie tidak berhenti di sana. “Tapi kalau belajar jadi gampang. Harus semangat terus supaya makin pintar. Biar nanti masa depannya enak.” Ucapan sederhana itu datang dari seorang anak yang baru saja menorehkan prestasi dalam Final World Mathematics Invitational (WMI) di Jepang.

Di usia ketika banyak anak masih mengenal dunia melalui permainan dan pengalaman-pengalaman baru, Jeremie mulai belajar satu pelajaran penting: kesulitan tidak selalu harus dihindari. Kesulitan juga dapat ditaklukkan melalui proses. Matematika memberinya ruang untuk belajar tentang hal itu. Ada persoalan yang jawabannya tidak langsung terlihat. Ada angka yang harus dihitung kembali. Ada logika yang perlu dipahami. Dan ada saat ketika seseorang harus memilih antara menyerah atau mencoba sekali lagi. Jeremie memilih yang kedua. Perjalanan tersebut telah tumbuh sejak tahun-tahun awal sekolahnya.

Shary Faith Layawan masih mengingat Jeremie ketika berada di Grade 1A Sampoerna Academy Surabaya-PI. Saat itu, Shary menjadi wali kelas sekaligus guru matematika yang turut mendampingi perkembangan kemampuan matematikanya. Bagi seorang guru, ada kebanggaan tersendiri ketika melihat murid yang dahulu dibimbing di kelas kini mampu melangkah ke kompetisi internasional. “It is truly an honour to have been part of Jeremie’s mathematical journey during his Grade 1 years in Grade 1A,” ujar Shary. Shary mengatakan, perannya ketika itu adalah membantu menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkuat keterampilan memecahkan masalah, serta mendorong Jeremie dan teman-temannya untuk tidak takut menantang kemampuan diri.

“As his Mathematics teacher, I was privileged to nurture his curiosity, strengthen his problem-solving skills, and encourage him to challenge himself,” tuturnya. Waktu berlalu. Jeremie kini berada di Grade 2. Tantangan matematikanya pun berkembang. Dari ruang kelas, perjalanan itu kemudian membawa Jeremie berhadapan dengan berbagai kompetisi matematika. Salah satunya WMI, kompetisi yang mempertemukannya dengan tantangan di panggung internasional hingga Jepang.

Bagi Shary, melihat mantan muridnya terus berkembang melalui ajang seperti SEAMO, SASMO, WMI, serta kompetisi nasional dan internasional lainnya menghadirkan rasa bangga yang tidak mudah diukur dengan angka. “Seeing Jeremie continue to excel in mathematics competitions such as SEAMO, SASMO, WMI, and other national and international competitions fills me with immense pride,” ungkapnya. Namun kebanggaan seorang guru bukan semata karena muridnya memenangkan kompetisi. Ada kepuasan berbeda ketika sesuatu yang pernah ditanam di ruang kelas yaitu rasa ingin tahu, keberanian mencoba, disiplin, dan kegigihan yang terus tumbuh ketika sang murid naik ke jenjang berikutnya.

“I am grateful to have played a small part in building the foundation for his continued growth,” kata Shary. Karena itulah, menurut Shary, pencapaian Jeremie dan para pembelajar muda lainnya menjadi pengingat tentang apa yang mungkin terjadi ketika kemampuan seorang anak bertemu dengan ketekunan dan dukungan yang tepat. “With passion, perseverance, and the right encouragement, young learners can achieve extraordinary things,” tuturnya. Prestasi Jeremie di Final WMI Jepang tentu menjadi sesuatu yang layak dirayakan. Tetapi mungkin ada pencapaian lain yang tak kalah penting.

Jeremie telah belajar bahwa dirinya tidak perlu selalu merasa hebat sejak awal untuk dapat menjadi lebih baik. Ia boleh merasa sebuah soal sulit. Ia boleh membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami. Yang penting, ia mau belajar dan terus mencoba. Dan ketika ditanya mengapa harus terus bersemangat, Jeremie sudah memiliki jawabannya sendiri. “Supaya makin pintar. Biar nanti masa depannya enak.” Sebuah cita-cita besar, disampaikan melalui kalimat yang sangat sederhana. Dari seorang anak yang belajar bahwa masa depan barangkali memang tidak dibangun dalam sehari. Ia dimulai dari keberanian menghadapi satu soal sulit hari ini.

Komentar0

Type above and press Enter to search.