TUroTpA6GpM9BSz0GSA9TpW9TY==

Kelompok Salaka Inovasikan Olahan Salak untuk Meningkatkan Nilai Jual

Kelompok Salaka bersama Dasawisma Lodadi mengolah salak menjadi bolu dan manisan untuk meningkatkan keterampilan, nilai tambah, dan peluang usaha masyarakat.

Sleman, 14 Agustus 2026 — Kelompok Salaka dari Program Studi Pendidikan Profesi Guru Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta melaksanakan Projek Kepemimpinan melalui kegiatan “Pengembangan Produk Olahan Salak: Bolu dan Manisan sebagai Upaya Meningkatkan Nilai Jual Komoditas Salak di Kampung Lodadi.” Kegiatan ini dilaksanakan bersama kelompok Dasawisma Kampung Lodadi, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, sebagai upaya mengoptimalkan potensi salak melalui pengembangan produk olahan bernilai tambah.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat yang selama ini lebih banyak menjual salak dalam bentuk buah segar. Ketika hasil panen melimpah, daya simpan salak yang relatif singkat dan ketergantungan terhadap harga pasar menjadi salah satu kendala. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pengolahan agar salak dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pengolahan salak menjadi produk pangan berupa bolu salak dan manisan salak.

Kegiatan diikuti oleh 23 peserta dari kelompok Dasawisma Kampung Lodadi. Pelaksanaan dilakukan melalui penyampaian materi, demonstrasi, praktik langsung, pendampingan, dan evaluasi. Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai proses pembuatan produk, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan, mulai dari menyiapkan alat dan bahan, mengikuti proses pengolahan, menggunakan peralatan, menjaga kebersihan, menghasilkan produk, hingga merapikan peralatan setelah kegiatan selesai.

Pendekatan yang digunakan menekankan pengalaman langsung atau learning by doing. Peserta belajar melalui praktik sehingga dapat memahami proses pembuatan bolu dan manisan salak secara lebih mudah. Kegiatan juga mengintegrasikan nilai-nilai Ajaran Tamansiswa melalui konsep Ngerti, Ngrasa, dan Nglakoni. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai pengolahan salak (Ngerti), memahami pentingnya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal (Ngrasa), kemudian mempraktikkan secara langsung proses pembuatan produk (Nglakoni).

Hasil kegiatan menunjukkan capaian yang positif. Berdasarkan evaluasi pengetahuan, rata-rata nilai pre-test sebesar 81,74 meningkat menjadi 100 pada post-test, atau mengalami peningkatan sebesar 18,26 poin. Sebanyak 21 dari 23 peserta (91,30%) mengalami peningkatan nilai, sedangkan dua peserta lainnya tetap memperoleh nilai maksimal. Seluruh peserta atau 100% memperoleh nilai 100 pada post-test. Capaian tersebut melampaui target program, yaitu minimal 80% peserta mengalami peningkatan pengetahuan.

Selain peningkatan pengetahuan, peserta juga menunjukkan kemampuan dalam praktik pengolahan. Berdasarkan hasil observasi, seluruh aspek praktik dapat dilakukan peserta, meliputi persiapan alat dan bahan, tahapan pembuatan bolu dan manisan, penggunaan peralatan, menjaga kebersihan, menghasilkan produk, serta merapikan peralatan. Produk yang dihasilkan juga dinilai baik dan sesuai dengan tahapan yang telah diberikan.

Kegiatan ini turut memberikan perubahan pada cara pandang masyarakat terhadap komoditas salak. Salak mulai dipahami bukan hanya sebagai buah yang dijual dalam kondisi segar, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Keterampilan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai alternatif usaha rumah tangga dan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan pemanfaatan potensi lokal.

Meskipun demikian, peningkatan pendapatan masyarakat belum dapat dibuktikan secara langsung melalui kegiatan ini karena belum tersedia data mengenai produksi lanjutan, volume penjualan, biaya produksi, dan keuntungan setelah program. Dampak ekonomi yang dapat ditunjukkan pada tahap ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan peserta serta munculnya peluang pengembangan usaha berbasis produk olahan salak.

Bagi mahasiswa, Projek Kepemimpinan ini menjadi pengalaman nyata dalam menerapkan kepemimpinan kolaboratif dan partisipatif. Mahasiswa belajar melakukan koordinasi dengan masyarakat, membagi tugas, mengelola waktu dan sumber daya, membangun komunikasi, mengambil keputusan, serta memecahkan permasalahan yang muncul selama kegiatan.

Ke depan, keterampilan yang telah diperoleh kelompok Dasawisma diharapkan dapat terus dikembangkan secara mandiri. Pengembangan lanjutan dapat diarahkan pada variasi produk, peningkatan kualitas kemasan, perhitungan biaya produksi, pemasaran, serta pemanfaatan media digital agar produk olahan salak memiliki peluang pasar yang lebih luas. Kemitraan antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat juga diharapkan dapat terus dijaga sehingga kegiatan pemberdayaan berbasis potensi lokal dapat berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Kelompok Salaka tidak hanya berupaya menghasilkan produk olahan salak, tetapi juga membangun pengalaman kepemimpinan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa keragaman potensi lokal dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan inovasi, meningkatkan keterampilan, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Komentar0

Type above and press Enter to search.